Bahana pos ( Rohil ) – Pergerakan Mahasiswa Islam Indonesia (PMII) Cabang Rokan Hilir melontarkan kritik tajam kepada Lembaga Adat Melayu (LAM) Rohil yang dinilai semakin kehilangan peran strategisnya dalam menjaga marwah adat dan kepentingan masyarakat Melayu.
Ketua Biro Kaderisasi PMII Rohil, Nasri, menegaskan bahwa LAM seharusnya tidak hanya hadir sebagai simbol seremonial, tetapi menjadi garda terdepan dalam merespons persoalan sosial, budaya, dan ketimpangan yang terjadi di tengah masyarakat.
“LAM jangan hanya diam dan jadi penonton di negeri sendiri. Tanah Melayu ini butuh suara adat yang tegas, bukan sekadar formalitas,” tegas Nasri Minggu (5/4/2026).
Menurutnya, berbagai persoalan seperti degradasi nilai budaya, konflik sosial, hingga ketidakadilan terhadap masyarakat lokal seharusnya menjadi perhatian serius LAM. Namun, hingga kini, respons yang muncul dinilai masih lemah dan tidak berpihak secara nyata.
PMII menilai, jika kondisi ini terus dibiarkan, maka eksistensi lembaga adat hanya akan kehilangan legitimasi di mata masyarakat. Padahal, LAM memiliki posisi penting sebagai penjaga nilai, penyeimbang kekuasaan, sekaligus pengawal identitas Melayu di daerah.
Sebagai solusi, PMII mendorong LAM Rohil untuk lebih aktif turun ke masyarakat, bersikap independen, serta berani menyuarakan kebenaran meski berhadapan dengan kekuasaan.
“Tambah lagi saat ini banyak pemuda Rohil yang berpotensi tapi sangat disayangkan hanya jadi penonton, apa lagi perusahaan berdiri di kabupaten Rohil banyak perubahan/PT tapi hanya sebagai penonton aja,” imbuh Nasri.
PMII juga menyoroti sikap ketua LAM Rohil yang dinilai lebih fokus pada kegiatan seremonial dan tidak berpihak pada kepentingan masyarakat.
“Kalau adat hanya diam, maka yang hilang bukan sekadar budaya, tapi jati diri negeri ini. Jangan taunya ketua LAM sekarang berbalas pantun dengan pejabat,” tutup Nasri.









