Bahana pos ( Meranti ) – Pengelolaan Telaga Air Merah di Kepulauan Meranti telah berhasil meningkatkan ekonomi masyarakat lokal. Total pendapatan yang diperoleh BUMDes selama tahun 2024 mencapai Rp 129.823.000, di mana Rp 56 juta berasal dari pengelolaan Tasik Air Merah. Dari hasil tersebut dapat memberikan kontribusi terhadap Pendapatan Asli Desa (PAD) mencapai Rp 51.924.000.
Pengelolaan Telaga Air Merah ini juga telah memberikan dampak positif bagi masyarakat lokal, seperti peningkatan pendapatan, peningkatan kesadaran akan pentingnya keberagaman budaya, dan peningkatan kesadaran akan pentingnya pelestarian lingkungan, Kamis (30/1/2025).
Selain itu, pengelolaan Telaga Air Merah ini juga telah menjadi contoh bagi desa-desa lain di Kepulauan Meranti dalam mengelola potensi wisata yang ada di daerah mereka.
Menurut Muhammad Anas, pengelola Telaga Air Merah, pengelolaan ini telah berhasil meningkatkan ekonomi masyarakat lokal dan memberikan dampak positif bagi masyarakat.
“Pengelolaan Telaga Air Merah ini telah berhasil meningkatkan ekonomi masyarakat lokal dan memberikan dampak positif bagi masyarakat,” kata Anas.
Anas juga menyampaikan bahwa pengelolaan Telaga Air Merah ini juga telah menjadi contoh bagi desa-desa lain di Kepulauan Meranti dalam mengelola potensi wisata yang ada di daerah mereka.
“Pengelolaan Telaga Air Merah ini juga telah menjadi contoh bagi desa-desa lain di Kepulauan Meranti dalam mengelola potensi wisata yang ada di daerah mereka,” kata Anas.
Sementara itu, Area Manager PT ITA, Bonar Ari Nindito, menegaskan komitmen perusahaan untuk membantu meningkatkan ekonomi masyarakat setempat melalui kolaborasi dengan desa.
“Kami tidak hanya bertugas mencari minyak sebagai pendapatan devisa negara, tetapi juga mendukung kegiatan pemberdayaan masyarakat seperti ini,” kata Bonar.
Bonar juga menyampaikan harapan agar kegiatan ini dapat menjadi inspirasi bagi desa-desa lain di Kepulauan Meranti.
“Kami yakin, melalui pengelolaan pariwisata berbasis komunitas, kita bisa menopang upaya pengurangan kemiskinan dan menciptakan model ekonomi yang berkelanjutan,” kata Bonar.
Lomba pacu sampan itu diikuti puluhan peserta dari berbagai kategori, mulai dari tingkat SMP, SMA, hingga dewasa. Tidak hanya peserta lokal, perwakilan dari berbagai kecamatan hingga luar kabupaten turut ambil bagian seperti dari Kabupaten Siak dan Bengkalis.
Selain lomba pacu sampan, panitia juga menghadirkan kegiatan unik dan edukatif, seperti lomba mencucuk atap daun rumbia, sebuah tradisi lokal yang mulai jarang ditemui. Ada pula lomba mewarnai, pelatihan membatik ecoprint, hingga program penanaman pohon sebagai wujud pelestarian lingkungan.
Turut hadir dalam kegiatan itu, unsur Forkopimda Kepulauan Meranti, para kepala OPD, Upika Tebingtinggi Barat, dan sejumlah petinggi PT. ITA, serta pejabat dan tamu undangan lainnya.
Dengan demikian, pengelolaan Telaga Air Merah ini dapat menjadi contoh bagi desa-desa lain di Kepulauan Meranti dalam mengelola potensi wisata yang ada di daerah mereka, serta meningkatkan ekonomi masyarakat lokal.
Reporter: Idris









