Bahana pos (Jakarta) – Hari Kebebasan Pers Sedunia diperingati setiap tahun pada tanggal 3 Mei. Namun, tahun ini, peringatan tersebut terasa berbeda bagi banyak jurnalis dan pecinta jurnalisme. Banyak media yang tutup, dan jurnalisme tradisional semakin sulit untuk bertahan.
Dalam beberapa tahun terakhir, industri jurnalisme telah mengalami perubahan besar. Banyak media yang telah beralih ke platform digital, namun tidak sedikit yang gulung tikar. Jurnalisme tradisional yang dulu menjadi pilar demokrasi kini terancam oleh perubahan zaman.
Jam jurnalisme bukan dibunuh dalam satu malam. Ia disayat perlahan oleh pisau-pisau halus bernama efisiensi, algoritma, dan self-branding.
“Siapa butuh media sekarang? Narasumber sudah bisa jadi penyiar, redaktur, editor, sekaligus bintang utama, semua dari satu ringlight dan akun Instagram
Banyak jurnalis yang telah kehilangan pekerjaan akibat perubahan industri ini. Mereka yang tersisa kini harus multitugas, mengetik, mengambil gambar, ngedit, posting, bikin caption, bales komentar, sambil menahan lapar karena honor belum cair.
Fenomena ini telah menyebabkan banyak media yang terpaksa melakukan PHK massal. Kompas TV? 150 orang dirumahkan. CNN Indonesia TV? 200 karyawan pulang tanpa naskah perpisahan. MNC Group? 400 jiwa kehilangan ID card redaksi. Republika, TVRI, (tautan tidak tersedia), semuanya satu per satu menutup pintu bagi para penjaga kebenaran.
Namun, masih ada harapan. Masih ada jurnalis yang menulis demi nurani, bukan trending. Masih ada ruang-ruang kecil di mana jurnalisme belum sepenuhnya padam, media komunitas, blog jujur, akun-akun kecil yang lebih peduli pada fakta dari FYP.
Mereka tak besar. Tapi mereka adalah lilin terakhir dalam ruang yang makin gelap. Mari kita rayakan Hari Kebebasan Pers 2025 bukan dengan seremonial, tapi dengan kesadaran, bahwa jika kita tak menjaga jurnalisme hari ini, besok yang akan mati bukan sekadar profesi, tapi kemampuan kita membedakan kebenaran dari kebohongan.
“Selamat jalan, Jurnalisme. Semoga engkau tidak hanya dikenang sebagai korban zaman, tapi kelak bangkit sebagai suara nurani yang tak bisa dibungkam
Reporter : Sulaiman









